PERI CANTIK BERJAS
PUTIH
Oleh : Dwiki Ayu Pramudya
Namaku
Rasya Omeha, seorang anak yang selalu bermimpi menjadi orang besar. Menjadi
yang selalu ibuku impikan. Kisahku dimulai sejak aku masih kelas 1 SMP, dimana
semua mimpi – mimpiku telah ku ukir dalam memori otakku. Semasa aku mulai
mengerti arti sebuah perjalanan hidup, arti sebuah kasih sayang dari seorang
ibu hingga kasih sayang dari seorang teman. Sejak saat itu aku mengenal seorang
teman bahkan sahabat. Reyna, Dino dan Rhea, merekalah seorang teman yang
menjadi salah satu alasanku untuk terus bermimpi. Dengan semangat juang kami
bersama berjuang untuk mewujudkan mimpi indah kami. Semua berawal ketika kami
sama – sama mengukir mimpi. Disana kisahku bermula.
Memakai sebuah jas putih, dengan
alat – alat yang begitu rumit, berwajib selalu tersenyum dengan orang asing,
dan berbagai jenis obat – obatan. Aku akan menjadi salah satu diantara mereka.
Tentu. Tentu saja aku akan mengukir mimpiku dari saat ini. Akan ku buat orang –
orang menungguku sukses dimasa depan tersenyum kepadaku hingga mereka memelukku
dengan ucapan “Selamat, kamu sukses”. Ibu. Dia adalah alasan utamaku mengapa
aku harus memperjuangkan impianku serta memperjuangkan hidupku bersamanya.
Bermimpi akan selalu hadir disetiap mimpi bahkan saat aku tak lagi bermimpi. Orang
yang selalu mendukungku disaat semua orang berkata tidak bahkan menolak. Wanita
yang menjadi panutan semangat untukku. Bidadari yang begitu sempurna dimataku.
Iya, ibuku yag terbaik. Benar – benar yang terbaik.
“Nak, ini kotak sarapan untukmu.
Jangan lupa nanti waktu istirahat kamu makan ya. Ibu tidak mau kamu jajan
sembarangan diluar.” Begitulah pesan yang disampaikan setiap pagi sebelum aku
berangkat kesekolah. “Tentu saja ibu,
jangan khawatir seorang dokter juga harus bisa menjaga kesehatannya bukan ? aku akan menjadi dokter yang sehat.”
Kagumku pada ibu. Sorot matanya yang selalu mampu membuatku nyaman memandangnya
juga menatapnya. Rutinitas yang selalu aku kerjakan ialah sekolah, dimana disana
aku mampu membangun sebata demi sebata impian yang telah ku desain bersama ibu
yang merupakan langkah awal kesuksesanku kelas. Nanti. Ibu bersabarlah sedikit,
suatu saat aku akan mengobatimu dengan begitu sempurna, sehingga tidak akan ada
lagi penyakit yang mampu membuat senyummu pudar bahkan tak akan kubiarkan mata
indah itu menjadi sayu hingga rapuh. Tidak ibu. Tunggu anakmu nanti yang akan
menjadi seorang dokter, aku berjuang untukmu bu, jadi bersabarlah sedikit.
“Sya, kamu kenapa kok kelihatannya sedih gitu
? ada sesuatu sama ibu kamu ?”, sapa Dino saat tiba ditanam sekolah. lamunanku
buyar seketika. “Dio, kapan datangnya Rhea mana kok gak bareng kamu ?” tanyaku
padanya. “ah, baru saja, kamu sih kebanyakan ngelamun. Aku tadi bareng kok sama
Rhea, dia lagi ke kamar mandi.” Jawabnya. “udah ya Sya kamu tenang saja, nanti
kalo kita sama – sama sukses dengan impian kita, aku janji kita bakal berjuang
sama – sama untuk semua orang termasuk ibu kamu. Kamu masih ingat kan sama
janji – janji kita dulu. Impian kita akan menjadi kenyataan, tapi kamu juga
harus semangat bukan, sudah tidak ada gunanya melamun. Saatnya kita berjuang
untuk ibu kamu. Itukan imipianmu ?” lanjut Dino, “Iya, kamu bener . buat apa
aku harus bersusah – susah seperti ini. Aku janji bakal ngelakuin apa saja
untuk ibu biar cepet sembuh.”. itulah segelintir ucapan dari seorang sahabat
yang selalu membangkitkan semangatku. Seorang yang selalu bisa membuatku
semakin mampu untuk bermimpi dan terus membangun mimpi itu.
Guruku
memberiku tugas mencari sebuah materi
mengenai ciri – ciri seorang yang menderita penyakit Leukimia. Tentu saja rasa
semangat belajarku luntur seketika. Lagi dan lagi ku teringat kata dokter
spesialis Leukimia. Ibuku menderita penyakit itu, dan untuk itulah aku ingin
menjadi seorang dokter spesialis kanker darah. Dimana penyakit kanker yang tak
asing terdengar mematikan. Hanl yang membuat para penderitanya hilang harapan.
Semua cahaya yang telah ada seketika menjadi suram. Dan, benar – benar suram.
Namun tidak bagiku, ibuku akan menaklukan penyakit itu. Penyakit yang setiap
hari menggerogoti ibuku, yang semakin hari tubuhnya semakin lemah. Aku tidak
ingin melihat ibuku terbaring lemah tak berdaya dikeranjang rumah sakit seperti
dulu, saat aku mngertahui bahwa ibu divonis dokter menderita penyakit itu. Saat
dimana harapan untuk hidup sudah tak ada lagi baginya. Saat dimana seorang ibu
harus berjuang menjadi ibu yang terbaik diwaktu yang masih diberikan
Tuhan. Dan saat itulah mulai kubangun
tekadku, kutata niatku, kubuang fikiran negativ yang selalu ingin meruntuhkan
semangatku. Menjadi seorang dokter spesialis kanker darah. Dan aku akan
membuktikan pada dunia bahwa impianku akan membawa senyum ibuku yang berseri –
seri. Yang akan bahagia dimasa nanti saat aku benar – benar bisa membuat ibuku
kembali sehat. Bertahanlah ibu. Putrimu saat ini benar – benar berjuang
untukmu.
Hari
telah begitu larut, rasa kantuk yang kian menjelma dalam gelapnya malam.
Bintang yang sekaan tak ingin bersinar menghias malamku. Bulan yang selalu
bersembunyi dibalik awan. telfonku berbunyi, “Ada apa Yo?” tanyaku pada Dio
yang sedang menelvonku untuk bertanya masalah tugas sekolah yang telah
diberikan ibu guru minggu lalu. Ahh, Leukemia. Kenapa aku bisa lupa. Dengan
bergegas segera ku kerjakan tugas itu. Dengan berlinang air mata, mencoba
tegar. Namun tak bisa. Tangan ini terasa lemas tak berdaya. Bergetar seakan tak
mampu lagi. Teringat sosok ibu. Malaikat hidupku. Seraya hatiku berdoa, ingin
sekali aku meminta saat ini, taburkan senyuman itu dalam mimpiku tuhan, agar
aku tidak lagi merasa takut. Takut akan membuatnya kecewa. Akan kubuat setiap
orang yang menderita penyakit itu sembuh. Aku akan menjadi dokter pertama yang
akan melenyapkan sel kanker itu. Nanti.
Hari
demi hari berlalu setelah masa – masa dimana akan menjadi hari – hari terakhir
ibuku, aku akan selalu berkata tidak dan tidak. Ibu akan selalu ada disini
menemani ku, sampai nanti. Tuhan kuatkan hati ini untuk menghadapi ujianmu
tuhan. Izinkan malaikatku selalu ada disampingku. “Maaf bu, sel – sel kanker yang ada dalam
darah ibu benar – benar hilang, namun saat ini sel itu mulai mnyerang kembali.
Itu dikarenakan sel darah putih yang ada didalam tubuh ibu tidak mampu melawan
penyakit itu, sehingga dengan begitu cepatnya sel itu kembali berkembang.”
Itulah kata dokter spesialis Leukemia saat terakhir ku antar ibuku untuk
periksa ke dokter. Tangis kami pecah
seketika. Rasa yang hancur dan sehancur – hancurnya. “Sudah nak, jangan
menangis, nanti kalau kamu nangis ibu juga akan sedih. Kamu tau kan ibu tidak
suka orang yang suka menangis. Sudah, ini semua adalah ujian Tuhan agar kita
semakin kuat. Lihat mereka yang senasib dengan ibu. Mereka semua sedang
berjuang nak, demi orang – orang yang mereka sayangi. Begitupun ibu. Demi kamu
nak, nanti jika kamu benar – benar menjadi dokter, sembuhkan mereka atas izin Allah
nak. Ibu yakin kamu pasti bisa. Berikan senyuman terindahmu kepada mereka.
Sehingga mereka tidak hanya ingin hidup tapi mereka mempunyai alasan untuk
berjuang. Tersenyumlah. Semua yang terjadi sudah seharusnya terjadi. Tetaplah
berdoa memohon yang terbaik kepada-Nya. Tuhan tidak tidur, dan akan selalu
mendengar doamu untuk ibu. Percayalah. Ibu tetap disini. Didalam hatimu.”.
Rasanya seakan ditusuk jarum seribu kali, hati yang awalnya kokoh sekarang
hancur, remuk. Dan seremuk – remuknya. Semua hilang dalam sekejap.
Semua
telah berlalu. Semua harapan ku musnah ketika aku akan menjadi seorang
mahasiswi, ibu pergi saat akan wisuda SMA ku, ibu pergi ketika aku benar –
benar ingin menunjukan prestasiku padanya. Aku mendapat beasiswa kuliah. Untuk
jadi dokter. Dokter spesialis. Namun hari itu hari dimana kubuat bata impian
akan tersusun rapi dan serapi mungkin. Demi ibu, untuk memenuhi pesan
terakhirnya. Dengan hidup yang serba pas – pasan bersama Bibi. Tak pernah
menyesal, namun akan kubuat mimpi besarku menjadi kenyataan. Benar – benar
menjadi kenyataan. Dan saat itu ketiga sahabatku juga demikian, setelah wisuda
kelulusan SMA mereka merajut karier dengan sebaik – baiknya. Dengan 1 ikatan
untuk sukses dan tetap menatap langit yang sama. Saat itu aku benar – benar
tidak sedikitpun melirik cinta. Ini bukan saatnya. Bukan saatnya untuk bermain,
tapi mewujudkan mimpi. Mimpi besar yang akan menungguku disana. Mimpi yang
selalu ibu tunggu disurga sana. Mungkin, cintaku boleh gagal, tapi karierku
harus super, karena sukses mengundang cinta yang lebih berkelas. Itu yang ibu
ajarkan. Itu yang selalu ibu tanamkan dalam kehidupanku. Berusaha itu pasti,
berjuang dengan sepenuh hati merasa mampu dengan hal – hal yang paling sulit.
Disanalah sebuah mimpi akan terwujud. Tetap
yakin, itu prinsipnya. Menitih karier tanpa kehadiran seorang ibu memang sulit.
Dan memang sangat sulit. Namun akan lebih sulit lagi jika disaat kehadiran ibu,
mimpi itu belum sama sekali terbangun. Dengan ini tekadku semakin kuat. Semakin
tangan ini mengepal semakin kuat niat ini, dan akan selalu bisa bangun disaat
jatuh. Dan sejatuh – jatuhnya.
Pagi
itu, aku telah bersiap untuk berangkat. Telah siap bertemu mereka yang selalu
mepunyai harapan besar. syukur Alhamdulillah, atas izin Allah, doa ku benar –
benar terkabul, mungkin disurga sana ibu juga selalu mendoakan ku. insyaallah
bisa. Hari itu aku akan memulai semua yang memang sudah ada didepan mataku.
Kutatap sinar mentari yang seakan menyambutku hari ini. Kutatap langit yang
cerah seakan ikut merasa bahagia melihatku. Kembali teringat kepada sosok yang
selalu hadir dalam mimpi tidurku setiap malam. “Non, ini nyonya pernah
menitipkan surat pada bibi sebelum nyonya meninggal. Beliau berpesan untuk
memberikan surat ini saat hari pertama non kerja dan memakai jas putih dengan
senyuman yang begitu cerah. Dan bibi rasa ini adalah saatnya.” Tangisku mulai
pecah tak mau berhenti. “makasih bi.” Respon singkatku, yang tak sabar ingin
membuka surat itu. Kertas warna biru sebiru warna langit saat itu dengan amplop
yang indah tertulis “Selamat pagi peri cantik berjas putih.” bibirku terangkat
dengan hebatnya air mata terus mengalir. Kubuka serta kubaca tanpa ada
sekatapun yang akan terlupa.
“
selamat pagi Dokter Rasya Omeha ? ibu yakin kamu sudah sarapan bukan ? dan ibu
yakin saat ini kamu akan menangis serta tersenyum. Sudah nak, ibu akan selalu
bahagia disini. Jangan pernah lagi meneteskan air matamu yaa. Ingat ibu saat
kamu akan menangis. Maaf nak ibu telah menyembunyikan ini semua dengan bibi.
Ibu hanya ingin mempersiapkan segala kemungkinan yang akan terjadi, bukan
begitu ? kita tidak akan tau, seberapa panjang umur kita. Esok kah, atau
sekarang kah kita tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi. Untuk kamu nak,
terus menjadilah dokter yang baik, mampu membantu orang lain. Mungkin ibu tidak
selamat, tapi selamatkan mereka yang sedang mempunyai harapan besar. jadikan
lah ibu sebagai alasan mu untuk terus berjuang demi mereka yang mempunyai nasib
seperti ibu. Bantu mereka nak, perjuangkan mereka seperti kamu memperjuangkan
ibu saat ibu masih sakit dulu. Rasanya benar – benar sakit nak, demi Allah
lahir batin. Masih banyak yang ibu belum berikan padamu, termasuk menemanimu
menjadi sarjana dengan berbagai prestasi terbaikmu. Maafkan ibu yang tak bisa
menemanimu selama meniti karier hingga menjadi sehebat ini. Tapi satu nak, ibu
sudah sangat yakin kamu akan berhasil, karena ibu telah menanamkan hal yang
begitu mulia dalam hatimu, itu pesan ayahmu dulu. Teruslah berjalan maju.
Jangan meyerah ya nak. Ah sudah, saatnya kamu harus bekerja. Jangan telat makan
ya nak. Dokter gak boleh sakit. Oh iya, bangun juga karir cintamu, jodohmu
pasti orang sebaik ayahmu dulu. Jodohmu yang akan menunggu, atau kau yang saat
ini sedang menunggu ? Jangan takut, ibu ada di hatimu. Iya, akan selalu
dihatimu.” Sepucuk surat yang sukses membuat tangisku pecah. Aku benar – benar
rindu kecupan pagi setelah sarapan sebelum berangkat kesekolah. Iya kecupan
yang tiada seorang pun yang dapat menggantikannya. Namun, kecupan itu akan selalu
dalam hati. Dan, tidak akan pernah hilang. Setelah itu, aku benar – benar yakin
ibuku akan selalu mendukungku. Dan, kembali ku mulai tugasku.
“Terima
kasih Dokter Rasya Omeha, anak saya saat
ini sudah bisa bersekolah berkat dokter juga atas izin Tuhan.” Ucap seorang
bapak dengan rasa yang entah bagaimana.
Matanya berair namun bibirnya tersenyum. “terima kasih juga bapak telah mempercayai
saya juga atas izin Allah untuk mengobati akan bapak. Dan itu semua atas
kehendak Allah. Jadi, sudah sepantasnya kita berterima kasih kepada yang di
atas.” Alhamdulillah.
Ibu
aku berhasil. Tuhan sampaikan salamku pada ayah ibu ku disurga, sampaikan bahwa
anaknya sekarang sedang merindukannya. Sangat merindukannya.
Do’aku untuk ibu :
Tuhan, ku mohon
pada-Mu, berilah selalu kebahagian yang selalu untukku serta ibuku
Selalu jernihkan hati
serta pikiranku agar ku bisa melukis senyuman itu disetiap hari
Berilah selalu kami
nikmat yang selalu mampu membuatku mengucap syukur tiada henti
Jadikan malam yang
tanpa bintang, saat ini menjadi ribuan bintang yang bersinar
Jadikan sunyinya malam
menjadi ramainya hati dengan ucapan syukur
Jadikan hidupku lebih
berarti atas ridhonya, juga ridho-Mu
Tuhan, kehendakilah
sesuatu yang baik untuk ku juga ibuku
Sungguh, tiada yang
mampu mengenalnya lebih baik dariku.
Berilah selalu kami
waktu terbaik agar kami mampu melukis cerita indah bersama
0 komentar:
Posting Komentar